inggris

Told in an area called the Village Wangunsari-life people with affluent and prosperous citizens. Wangunsari village is the village to own a fertile and abundant natural resources, so that people living in villages it is very adequate. Most villagers are farmers and ranchers. As the saying goes “There is no ivory that is not cracked,” although the village’s population live in harmony and in harmony, there is still some residents who live not according to the norm. Corner edge of the river lies a village where residents are often used for gambling and prostitution when harvest season comes. Residents flocked to the site to nenghabiskan money and crops with ease. Not a few of those who came home with empty hands and carrying a large debt, so in the end those who have debts must be paid by way of surrender or daughter’s house to the owner of the gambling place.

One day, drought-stricken village wangunsari. Land becomes barren, dead because kakeringan Plants, animals die, and many villagers are starving due to the rice and vegetables do not grow. Drought is really making people miserable. A priest is troubled by the state of his village, and intend to be imprisoned in the cave to ask for help to god. And the priest went away alone without being noticed by other villagers.

A month passed, the pastor belun inspired nothing. The pastor was increasingly concerned with the circumstances of the village wangunsari worse by drought. But the minister can do is keep praying to God neminta assistance. a few days later, the pastor received a commandment from God through a strange sound echoing in the cave. “Make a big rock pile at the end of irrigation. Tell wargamu all helped, if anyone does not help then your attempt to stop the drought is not going to work “the mysterious voice suddenly disappeared. With a happy feeling that the priest rushed to the village wangunsari to tell this good news.

All citizens of the village hall gathering. Pastor came forward to declare the good news. “Let all the villagers wangunsari, after I asked for a solution to be imprisoned this drought to god almighty, I finally ordered to make a pile of stones to hold the water at the end of irrigation. So, let us all together to build the stone kemarmuran our village “said the pastor to all citizens. “But there is one condition that must be satisfied that all citizens should work to make this stone” Decisive preacher. “Come on, let’s do it now!” Cried the citizens with a passion. Boulders and even then woke up after all the people trying hard.

Wangunsari village life back as usual. fertile rice land back, as well as land for vegetables and the rivers return to water. But villagers wangunsari prosperity did not last long. Stone dam water was slowly cracking. which causes water ditampungnya shrink little by little. panicked residents returned to the scene. “What is this? what happened? “shouted one resident at the village hall all come together. “Pastor, why the stone can crack,” he asked the priest again. “Then I say, if one is not part of this great stone building, the stone will be crushed”. the priest said nervously. “Who do not contribute to building a large rock pile that?” Asked the village chief to all citizens. But people even still, no one answered. “Well then, if no one confessed, I will ask the pastor to pray to god that he gave a major disaster to us all” threatened the village.

“Sorry sir before the village chief, if not wrong, Kadir helped build the stone was not because he was drunk severe gambling place” said Doyok surprising of all citizens. “Where now Kadir” asked the village chief. “She must have in place gambling is the chief village” replied Doyok. “Quickly bring him here!” Command chief.

Kadir Doyok brought to the village hall, where all the people gathered. “It’s him, Kadir had come” said one resident. Kadir was dragged by drunk overlooking the village. “What should we do now pastor?” Said the head of the village to find a solution. “Perhaps there should be sacrificed for the prosperity of our village” said the pastor. “What the minister mean?” Said village chief confusion. “Yes, we’ve made scapegoat Kadir as an apology because we have neglected” the pastor said. “How?” Asked the village chief. “We made it back to the rock pile, but at one side of the body we insert Kadir as a scapegoat” the pastor said cautiously. “I agree to the pastor,” shouted one resident. followed by remarks from all the residents agree. “We have no other choice” said the head of the village.

Residents returning to the big rock pile in accordance with what was said by the priest. after the stone was finished, the stone back dibendungan water filled and remained there until now. wangunsari villagers prosper again.

Advertisements

narrative

Diceritakan di suatu daerah bernama Desa Wangunsari hidup rakyat-rakyatnya dengan makmur dan sejahtera. Desa Wangunsari adalah desa yang subur dan memeliki kekayaan alam yang melimpah, sehingga penduduk yang hidup didesa itu sangat tercukupi. Sebagian besar penduduk desa itu adalah petani dan peternak. Seperti kata pepatah “Tak ada gading yang tak retak” walaupun  penduduk didesa itu hidup rukun dan harmonis, tetap saja ada sebagian penduduk yang hidup tak sesuai dengan norma. Ditepi sungai sudut desa itu terdapat sebuah tempat yang sering dipakai warga untuk berjudi dan melacur ketika musim panen tiba. Warga berbondong-bondong ke tempat itu untuk nenghabiskan uang dan hasil panen dengan mudah. Tak sedikit dari mereka yang pulang ke rumah dengan tangan kosong dan membawa hutang yang besar, sehingga pada akhirnya mereka yang memiliki hutang harus membayarnya dengan cara menyerahkan rumah atau anak gadisnya kepada pemilik tempat  judi itu.

broken rock

suatu hari, desa wangunsari dipanda kemarau panjang. Tanah menjadi tandus, Tumbuhan mati karena kakeringan, hewan-hewan ternak mati, dan warga desa banyak yang kelaparan akibat padi dan sayuran tidak tumbuh. Kemarau panjang ini sungguh membuat rakyat sengsara. Seorang pendeta yang resah dengan keadaan desanya, lalu berniat untuk bertapa di gua untuk meminta pertolongan kepada tuhan. Dan pendeta itupun pergi sendiri tanpa diketahui oleh warga desa lainnya.

Sebulan berlalu, pendeta itu belun mendapat ilham apa-apa. Pendeta itu semakin khawatir dengan keadaan desa wangunsari yang semakin tambah parah karena kemarau panjang. Tapi yang bisa dilakukan pendeta itu adalah terus berdoa neminta bantuan pada tuhan. beberapa hari kemudian, pendeta itu mendapat sebuah perintah dari tuhan melalui suara aneh yang menggema dalam gua. “Buatlah tumpukkan batu besar di ujung irigasi. Suruh wargamu semua ikut membantu, jikalau ada seorang yang tidak membantu maka usahamu untuk menghentikan kemarau ini tidak akan berhasil” Suara misterius itu menghilang tiba-tiba. Dengan perasaan yang bahagia pendeta itu segera berlari menuju desa wangunsari untuk memberitahukan kabar baik ini.

Semua warga berkumpul dibalai desa. Pendeta maju kedepan untuk mengumunkan kabar baik itu. “Baiklah semua warga desa wangunsari, setelah saya bertapa meminta solusi untuk bencana kekeringan ini kepada tuhan yang maha kuasa, akhirnya saya diperintahkan untuk membuat tumpukkan batu besar untuk menahan air di ujung irigasi. Jadi, marilah kita semua bersama-sama membangun batu itu untuk kemarmuran desa kita ini” seru pendeta kepada semua warga. “Tapi ada 1 syarat yang harus dipenuhi yaitu semua warga harus bekerja membuat batu ini” Tegas sang pendeta. “Ayo, ayo kita lakukan sekarang juga!!” seru para warga dengan semangat. Batu besar itupun terbangun setelah semua warga berusaha keras.

Kehidupan warga desa wangunsari kembali seperti sedia kala. lahan padi kembali subur, begitu juga dengan lahan untuk sayuran dan sungai-sungai kembali berair. Tapi kemakmuran warga desa wangunsari tidak berlangsung lama. Batu bendungan air itu retak perlahan-lahan. yang menyebabkan air yang ditampungnya menyusut sedikit demi sedikit. warga kembali panik dengan kejadian itu. “Ada apa ini? apa yang terjadi?” teriak seorang warga saat semua berkumpul dibalai desa. “Pak pendeta, mengapa batu itu bisa retak?” tanyanya lagi pada pendeta. “waktu itu saya bilang, jika ada seorangpun yang tidak ikut membangun batu besar ini, maka batu itu akan hancur”. ucap pendeta itu gelisah. “siapa yang tidak ikut membangun tumpukkan batu besar itu?” tanya kepala desa kepada semua warga. Tapi warga malah diam, tak ada yang menjawab. “baiklah kalau begitu, jika tidak ada yang mengaku, saya akan meminta kepada pendeta agar dia berdoa kepada tuhan supaya memberi bencana yang lebih besar kepada kita semua” ancam kepala desa.

“maaf sebelumnya pak kepala desa, kalau tidak salah, kadir tidak ikut membangun batu itu karena dia mabuk parah ditempat judi” kata doyok mengejutkan semua warga. “dimana sekarang kadir?” tanya kepala desa. “dia pasti ada ditempat judi itu pak kepala desa” jawab doyok. “cepat bawa dia kesini!” perintah kepala desa.

Doyok membawa kadir ke balai desa, tempat semua warga berkumpul. “itu dia, kadir sudah datang” ucap salah seorang warga. Dengan keadaan mabuk kadir diseret menghadap kepala desa. “apa yang harus kita lakukan sekarang pendeta?” tanya kepala desa untuk mencari solusi. “mungkin harus ada yang dikorbankan untuk kemakmuran desa kita” jawab pendeta. “apa yang pendeta maksud?” tanya kepala desa kebingungan. “ya, kadir kita jadikan tumbal sebagai permohonan maaf karena kita telah lalai” kata pendeta. “bagaimana caranya?” tanya kepala desa. “kita buat kembali tumpukkan batu itu, tapi disalah satu sisi kita sisipkan tubuh kadir sebagai tumbal” pendeta berkata dengan hati-hati. “saya setuju pendeta” teriak seorang warga. lalu diikuti ucapan setuju dari semua warga. “kita tidak punya pilihan lain” ucap kepala desa.

Warga kembali membuat tumpukkan batu besar itu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pendeta. setelah batu itu selesai, air dibendungan batu itu kembali terisi dan tetap ada sampai sekarang. warga desa wangunsari kembali hidup makmur.

Teman hidup.

“Tuan pendek masih menduda, tetapi setiap hari Minggu ia membawa pulang anak lelakinya untuk menemaninya. Melihat bentuk tubuhnya yang pendek dan nampak kesepian itu, para tetangga pun ingat semua apa yang telah dialami Tuan Pendek, bahkan mereka bisa mengerti mengapa tuan pendek tetap bertahan hidup sendiri”

Cerpen ini bercerita tentang betapa kuat dan hebatnya sebuah kebiasaan, bahkan walaupun itu adalah hal yang tidak lazim. Cerita antara Tuan Pendek dan istrinya yang jangkung. Seribu perbedaan ada pada pasangan ini, tapi perbedaan itu tak lekas membuat pasangan suami istri yang ganjil itu tak bertahan lama. Mereka bisa hidup bersama sampai ada diantara mereka yang tiada. Tuan Pendek itu hanya memiliki tinggi 158cm, badannya gemuk berisi seperti bola, semua bagian badannya baik betis, punggung kaki, bibir, hidung, maupun jari-jari menyerupai bakso. Sedangkan istrinya kurus tinggi, beda 17cm dengan suaminya. Tubuhnya kurus kering dan wajahnya mungil menyerupai kuwaci, tidak bercahaya serta dada dan pantatnya rata seperti papan. Mereka nyata sekali berlawanan tapi mereka tak terpisahkan.

Pasangan Aneh ini tinggal disebuah apartement bergaya lama berhalaman luas dengan sebuah rumah kecil yang berfungsi sebagai gerbang. Rumah itu didiami oleh aeorang tukang jahit dan istrinya yang seakan disetting sebagai ratu penggunjing diapartement itu. Segala hal seluk beluk diapartement ini ia ketahui secara pasti. Persoalan bagaimana para suami dan para istri bisa saling akur, siapa yang malas dan siapa yang membanting tulang, dan berapa banyak gaji setiap orang, semuanya ia ketahui. Termasuk hal yang paling ganjil diapartement itu yaitu mengenai mengapa pasangan aneh -Tuan Pendek dan Istri Jangkung- itu bisa menikah dan hidup bersama sampai sekarang. Istri tukang jahit itu terus mengorek berbagai macam informasi. Yang ada dibenak para tetangga dan Istri Tukang Jahit tentunya adalah “Apa gerangan yang menyatukan suami istri itu?”
Atas keahlian dan sikap pantang menyerah dalam mengorek informasi maka Istri Tukang Jahit itu diangkat menjadi Wakil penghuni apartement yang punya kewenangan lebih.

Pada tahun 1966 suatu malapetaka menimpa cina. Revolusi besar-besar terjadi dan merambah pada kehidupan semua penduduk rumahan termasuk Tuan Pendek. Para polisi mendatangi apartement Tuan pendek yang dituduh menyelundupkan hasil-hasil risetnya keluar untuk untuk ditulis dirumah. Juga tuduhan bahwa Tuan Pendek telah mengirim rahasia ilmiah kepada orang-orang kapitalis. Pada saat polisi memeriksa ijin tinggal itulah Istri Tukang Jahit mengetahui bahwa Tuan Pendek adalah seorang Insinyur kepala di Lembaga Riset Departemen Industri Kimia yang gajinya 180 yuan. Sedangkan istrinya bekerja sebagai Teknisi biasa labolatorium yang gajinya 60 yuan.  Jadi Istri tukang jahit berkesimpulan kalau Nyonya Jangkung menikah dengan Tuan pendek hanya demi uang, status dan hidup enak. Penggerebegan itu berhasil membuat Tuan Pendek masuk penjara atas segala tuduhan yang belum diketahui kebenarannya itu.

Sekarang Nyonya Jangkung hidup sendiri bersama anak lelakinya. Setelah kejadian penangkapan suaminya Nyonya Jangkung kini tinggal dirumah kecil sebagai gerbang itu bertukar tempat dengan Tukang Jahit dan istrinya. 1 tahun, 2 tahun terlewat tetapi Tuan Pendek tak kunjung datang juga. Para tetangga itu kembali berbisik apakah Nyonya Jangkung akan tahan atau malah sebaliknya. Setelah lama bertahan, akhirnya Tuan Jangkung kembali pulang dan mendapati tubuh istrinya semakin kurus lemah, wajah pucat seperti mayat sedang membelah kayu bakar didepan rumah.

Waktu berjalan dan kebersamaan Tuan Pendek dan Nyonya jangkung  kembali terpupuk, tapi sayang takdir berkata lain. Karena penyakit akhirnya Nyonya Jangkung meninggal dan sekarang Tuan Pendek hidup berdua dengan anak lelakinya. Tuan pendek menjalani hidupnya seperri biasa seperti saat dulu ia masih bersama istrinya. Tak ada dalam pikiran Tuan pendek untuk menikah lagi. Ia memilih untuk hidup tanpa mempunyai seorang istri, para tetangga pun mulai ribut mempergunjingkan soal kesendirian Tuan Pendek.

Sejak saat itu, beberapa tahun berlalu dan Tuan Pendek masih menduda. Suatu ketika Tuan Pendek pergi bekerja pada hari hujan, ia memegang payung tinggi-tinggi. Melihat perilaku Tuan Pendek itu, orang-orang kini mendapat kesan yang langka dan berharga: ada ruang kosong yang luas dibawah payung itu, ruang hampa yang tidak dapat diisi oleh apapun yang ada didunia ini.