Teman hidup.

“Tuan pendek masih menduda, tetapi setiap hari Minggu ia membawa pulang anak lelakinya untuk menemaninya. Melihat bentuk tubuhnya yang pendek dan nampak kesepian itu, para tetangga pun ingat semua apa yang telah dialami Tuan Pendek, bahkan mereka bisa mengerti mengapa tuan pendek tetap bertahan hidup sendiri”

Cerpen ini bercerita tentang betapa kuat dan hebatnya sebuah kebiasaan, bahkan walaupun itu adalah hal yang tidak lazim. Cerita antara Tuan Pendek dan istrinya yang jangkung. Seribu perbedaan ada pada pasangan ini, tapi perbedaan itu tak lekas membuat pasangan suami istri yang ganjil itu tak bertahan lama. Mereka bisa hidup bersama sampai ada diantara mereka yang tiada. Tuan Pendek itu hanya memiliki tinggi 158cm, badannya gemuk berisi seperti bola, semua bagian badannya baik betis, punggung kaki, bibir, hidung, maupun jari-jari menyerupai bakso. Sedangkan istrinya kurus tinggi, beda 17cm dengan suaminya. Tubuhnya kurus kering dan wajahnya mungil menyerupai kuwaci, tidak bercahaya serta dada dan pantatnya rata seperti papan. Mereka nyata sekali berlawanan tapi mereka tak terpisahkan.

Pasangan Aneh ini tinggal disebuah apartement bergaya lama berhalaman luas dengan sebuah rumah kecil yang berfungsi sebagai gerbang. Rumah itu didiami oleh aeorang tukang jahit dan istrinya yang seakan disetting sebagai ratu penggunjing diapartement itu. Segala hal seluk beluk diapartement ini ia ketahui secara pasti. Persoalan bagaimana para suami dan para istri bisa saling akur, siapa yang malas dan siapa yang membanting tulang, dan berapa banyak gaji setiap orang, semuanya ia ketahui. Termasuk hal yang paling ganjil diapartement itu yaitu mengenai mengapa pasangan aneh -Tuan Pendek dan Istri Jangkung- itu bisa menikah dan hidup bersama sampai sekarang. Istri tukang jahit itu terus mengorek berbagai macam informasi. Yang ada dibenak para tetangga dan Istri Tukang Jahit tentunya adalah “Apa gerangan yang menyatukan suami istri itu?”
Atas keahlian dan sikap pantang menyerah dalam mengorek informasi maka Istri Tukang Jahit itu diangkat menjadi Wakil penghuni apartement yang punya kewenangan lebih.

Pada tahun 1966 suatu malapetaka menimpa cina. Revolusi besar-besar terjadi dan merambah pada kehidupan semua penduduk rumahan termasuk Tuan Pendek. Para polisi mendatangi apartement Tuan pendek yang dituduh menyelundupkan hasil-hasil risetnya keluar untuk untuk ditulis dirumah. Juga tuduhan bahwa Tuan Pendek telah mengirim rahasia ilmiah kepada orang-orang kapitalis. Pada saat polisi memeriksa ijin tinggal itulah Istri Tukang Jahit mengetahui bahwa Tuan Pendek adalah seorang Insinyur kepala di Lembaga Riset Departemen Industri Kimia yang gajinya 180 yuan. Sedangkan istrinya bekerja sebagai Teknisi biasa labolatorium yang gajinya 60 yuan.  Jadi Istri tukang jahit berkesimpulan kalau Nyonya Jangkung menikah dengan Tuan pendek hanya demi uang, status dan hidup enak. Penggerebegan itu berhasil membuat Tuan Pendek masuk penjara atas segala tuduhan yang belum diketahui kebenarannya itu.

Sekarang Nyonya Jangkung hidup sendiri bersama anak lelakinya. Setelah kejadian penangkapan suaminya Nyonya Jangkung kini tinggal dirumah kecil sebagai gerbang itu bertukar tempat dengan Tukang Jahit dan istrinya. 1 tahun, 2 tahun terlewat tetapi Tuan Pendek tak kunjung datang juga. Para tetangga itu kembali berbisik apakah Nyonya Jangkung akan tahan atau malah sebaliknya. Setelah lama bertahan, akhirnya Tuan Jangkung kembali pulang dan mendapati tubuh istrinya semakin kurus lemah, wajah pucat seperti mayat sedang membelah kayu bakar didepan rumah.

Waktu berjalan dan kebersamaan Tuan Pendek dan Nyonya jangkung  kembali terpupuk, tapi sayang takdir berkata lain. Karena penyakit akhirnya Nyonya Jangkung meninggal dan sekarang Tuan Pendek hidup berdua dengan anak lelakinya. Tuan pendek menjalani hidupnya seperri biasa seperti saat dulu ia masih bersama istrinya. Tak ada dalam pikiran Tuan pendek untuk menikah lagi. Ia memilih untuk hidup tanpa mempunyai seorang istri, para tetangga pun mulai ribut mempergunjingkan soal kesendirian Tuan Pendek.

Sejak saat itu, beberapa tahun berlalu dan Tuan Pendek masih menduda. Suatu ketika Tuan Pendek pergi bekerja pada hari hujan, ia memegang payung tinggi-tinggi. Melihat perilaku Tuan Pendek itu, orang-orang kini mendapat kesan yang langka dan berharga: ada ruang kosong yang luas dibawah payung itu, ruang hampa yang tidak dapat diisi oleh apapun yang ada didunia ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s