broken rock

suatu hari, desa wangunsari dipanda kemarau panjang. Tanah menjadi tandus, Tumbuhan mati karena kakeringan, hewan-hewan ternak mati, dan warga desa banyak yang kelaparan akibat padi dan sayuran tidak tumbuh. Kemarau panjang ini sungguh membuat rakyat sengsara. Seorang pendeta yang resah dengan keadaan desanya, lalu berniat untuk bertapa di gua untuk meminta pertolongan kepada tuhan. Dan pendeta itupun pergi sendiri tanpa diketahui oleh warga desa lainnya.

Sebulan berlalu, pendeta itu belun mendapat ilham apa-apa. Pendeta itu semakin khawatir dengan keadaan desa wangunsari yang semakin tambah parah karena kemarau panjang. Tapi yang bisa dilakukan pendeta itu adalah terus berdoa neminta bantuan pada tuhan. beberapa hari kemudian, pendeta itu mendapat sebuah perintah dari tuhan melalui suara aneh yang menggema dalam gua. “Buatlah tumpukkan batu besar di ujung irigasi. Suruh wargamu semua ikut membantu, jikalau ada seorang yang tidak membantu maka usahamu untuk menghentikan kemarau ini tidak akan berhasil” Suara misterius itu menghilang tiba-tiba. Dengan perasaan yang bahagia pendeta itu segera berlari menuju desa wangunsari untuk memberitahukan kabar baik ini.

Semua warga berkumpul dibalai desa. Pendeta maju kedepan untuk mengumunkan kabar baik itu. “Baiklah semua warga desa wangunsari, setelah saya bertapa meminta solusi untuk bencana kekeringan ini kepada tuhan yang maha kuasa, akhirnya saya diperintahkan untuk membuat tumpukkan batu besar untuk menahan air di ujung irigasi. Jadi, marilah kita semua bersama-sama membangun batu itu untuk kemarmuran desa kita ini” seru pendeta kepada semua warga. “Tapi ada 1 syarat yang harus dipenuhi yaitu semua warga harus bekerja membuat batu ini” Tegas sang pendeta. “Ayo, ayo kita lakukan sekarang juga!!” seru para warga dengan semangat. Batu besar itupun terbangun setelah semua warga berusaha keras.

Kehidupan warga desa wangunsari kembali seperti sedia kala. lahan padi kembali subur, begitu juga dengan lahan untuk sayuran dan sungai-sungai kembali berair. Tapi kemakmuran warga desa wangunsari tidak berlangsung lama. Batu bendungan air itu retak perlahan-lahan. yang menyebabkan air yang ditampungnya menyusut sedikit demi sedikit. warga kembali panik dengan kejadian itu. “Ada apa ini? apa yang terjadi?” teriak seorang warga saat semua berkumpul dibalai desa. “Pak pendeta, mengapa batu itu bisa retak?” tanyanya lagi pada pendeta. “waktu itu saya bilang, jika ada seorangpun yang tidak ikut membangun batu besar ini, maka batu itu akan hancur”. ucap pendeta itu gelisah. “siapa yang tidak ikut membangun tumpukkan batu besar itu?” tanya kepala desa kepada semua warga. Tapi warga malah diam, tak ada yang menjawab. “baiklah kalau begitu, jika tidak ada yang mengaku, saya akan meminta kepada pendeta agar dia berdoa kepada tuhan supaya memberi bencana yang lebih besar kepada kita semua” ancam kepala desa.

“maaf sebelumnya pak kepala desa, kalau tidak salah, kadir tidak ikut membangun batu itu karena dia mabuk parah ditempat judi” kata doyok mengejutkan semua warga. “dimana sekarang kadir?” tanya kepala desa. “dia pasti ada ditempat judi itu pak kepala desa” jawab doyok. “cepat bawa dia kesini!” perintah kepala desa.

Doyok membawa kadir ke balai desa, tempat semua warga berkumpul. “itu dia, kadir sudah datang” ucap salah seorang warga. Dengan keadaan mabuk kadir diseret menghadap kepala desa. “apa yang harus kita lakukan sekarang pendeta?” tanya kepala desa untuk mencari solusi. “mungkin harus ada yang dikorbankan untuk kemakmuran desa kita” jawab pendeta. “apa yang pendeta maksud?” tanya kepala desa kebingungan. “ya, kadir kita jadikan tumbal sebagai permohonan maaf karena kita telah lalai” kata pendeta. “bagaimana caranya?” tanya kepala desa. “kita buat kembali tumpukkan batu itu, tapi disalah satu sisi kita sisipkan tubuh kadir sebagai tumbal” pendeta berkata dengan hati-hati. “saya setuju pendeta” teriak seorang warga. lalu diikuti ucapan setuju dari semua warga. “kita tidak punya pilihan lain” ucap kepala desa.

Warga kembali membuat tumpukkan batu besar itu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pendeta. setelah batu itu selesai, air dibendungan batu itu kembali terisi dan tetap ada sampai sekarang. warga desa wangunsari kembali hidup makmur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s